

Tips Packing Ultralight
Seni Manajemen Beban untuk Pendaki dan Urban Traveler
Di kalangan pendaki gunung Indonesia, muncul sebuah pameo: "Bawa sedikit, jalan jauh. Bawa banyak, jalan dekat." Fenomena ini melahirkan tren Ultralight Backpacking. Konsep ini bukan sekadar pamer alat mahal yang ringan, melainkan strategi cerdas mereduksi beban tanpa mengabaikan aspek keselamatan (safety) di alam liar.
Bagi Anda yang sering merasa cepat jompo saat mendaki atau sering merasa tas carrier terlalu menyiksa pundak, manajemen packing yang salah bisa jadi penyebab utamanya. Dengan mengadopsi prinsip Hikemore, yaitu multifunctionality, Anda bisa memangkas beban hingga 30-50% dari berat biasanya.

Gambar 1: Tahap awal ultralight adalah menimbang setiap perlengkapan guna memisahkan antara kebutuhan esensial dan beban tambahan yang tidak perlu.
1. Memahami Filosofi "The Big Three"
Berdasarkan riset mendalam terhadap kebiasaan pendaki di Indonesia, beban terberat selalu berasal dari tiga alat utama: Tenda, Sleeping System, dan Carrier itu sendiri. Untuk memulai teknik ultralight:
- Carrier: Pilih tas dengan volume lebih kecil (35L - 50L) namun memiliki struktur punggung yang ergonomis. Pastikan tas Anda menggunakan jahitan Batrex Sewing agar tetap kokoh meski diisi muatan padat.
- Shelter: Pertimbangkan menggunakan tenda kapasitas 1-2 orang dengan berat di bawah 2kg atau menggunakan flysheet jika medan memungkinkan.
- Sleeping System: Gunakan sleeping bag berbahan dacron atau bulu angsa yang bisa dikompres hingga ukuran terkecil.
Modifikasi Strategi: Multi-Use Gear
Salah satu trik ATM dari para pro-hiker adalah membawa barang yang punya dua fungsi atau lebih. Contohnya, jaket riding atau vest fungsional Hikemore bisa Anda jadikan bantal tambahan saat tidur, sehingga Anda tidak perlu lagi membawa bantal tiup yang menambah beban gramasi.
2. Manajemen Pakaian dengan Sistem Layering
Jangan pernah membawa pakaian ganti untuk setiap hari pendakian. Di Indonesia yang beriklim tropis namun dingin di ketinggian, cukup gunakan sistem 3 lapis (3-Layer System):
- Base Layer: Kaos quick-dry atau manset sportwear yang menyerap keringat.
- Mid Layer: Kemeja atau jaket parasut ringan untuk menahan suhu tubuh.
- Outer Layer: Jaket water-resistant yang juga berfungsi sebagai windbreaker.
Pilihlah celana semi-stretch yang memiliki banyak saku (multifungsi). Celana ini sangat ringan dan fleksibel, memungkinkan Anda bergerak bebas di jalur terjal tanpa takut sobek karena kekuatan jahitannya sudah teruji.

Gambar 2: Penggunaan dry bag tidak hanya melindungi pakaian dari air, tapi juga berfungsi sebagai kompresor ruang di dalam tas agar lebih ringkas.
3. Distribusi Beban (Weight Distribution)
Setelah gear diperingkas, cara memasukkannya ke dalam tas adalah kunci kenyamanan. ATM teknik packing internasional yang dimodifikasi untuk medan Indonesia adalah:
- Bottom (Bawah): Barang ringan dan besar seperti sleeping bag dan matras.
- Middle-Back (Tengah dekat punggung): Barang terberat seperti air, logistik, dan alat masak (nesting). Ini menjaga beban tetap pada pusat gravitasi tubuh.
- Top (Atas): Barang yang sering diakses seperti jas hujan, headlamp, dan camilan.










